Cerita Seram Karena Temu Darat (Part 4)

Hari Keempat: Putus Asa

Pagi itu hujan turun dengan deras. Semuanya sudah tidak makan satu hari satu malam. Kalau tidak fokus cari makan, dikhawatirkan semuanya tidak akan bisa bertahan lagi. Untungnya di kantong Kuaidao masih tersisa 200 dolar. Kalau sampai uang itu hilang, maka uang untuk beli makanan pun tidak ada.

Kuaidao dan Laojiu tanpa banya berbicara pun langsung menerobos hujan berangkat. Gaoyan tanpa basa basi juga langsung berangkat mencari buah.

Anran berdiri diam di depan pintu. Semenjak kami bangun tadi pagi Anran sudah terlihat sepertinya ada perasaan tidak tenang dan galau. Dia menatap saya, kemudian menatap Xiaoyao, kemudian berkata, “Maafkan saya. Sebetulnya saya bermaksud memanfaatkan hari libur ini untuk ajang kumpul-kumpul supaya lebih saling kenal…. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Feiding, saya tidak akan bisa memaafkan saya sendiri!”

Melihat mata Anran memerah, saya dan Xiaoyao pun hampir menangis dibuatnya. Xiaoyao dengan memaksa tampil rileks berkata, “Jangan khawatir, Anran. Mungkin saja si Feiding memang sengaja menyembunyikan makanan untuk usil.” Saya ikut menimbrung, “Iya Anran. Feiding pasti tidak apa-apa.”

“Betul. Dia masih belum berhasil menggali harta karun, bagaimana mungkin terjadi sesuatu pada dia,” lanjut Xiaoyao. Anran akhirnya tertawa, walaupun terlihat seperti dipaksakan. Dengan tatapan mata yang masih kosong dia berkata, “Ayo kita cari dia. Kalau sudah ketemu kita tonjok dia keras-keras.”

Feiding masih saja belum ditemukan. Badan kami sudah basah gara-gara kehujanan sekian lama. Dalam kedinginan, kami berjalan kembali ke bangunan. Ketika sampai di dalam ternyata Kuaidao dan Laojiu sudah ada di dalam. Kami semuanya terkejut sekaligus heran.

Anran pun bertanya, “Bukankah kalian pergi ke kota untuk beli makanan? Kok sudah kembali?” Kedua orang itu hanya diam terpaku tidak menjawab. Seperti patung saja. Anran terus bertanya. Dan mereka tetap diam. Pada saat itulah saya merasakan kengerian.

“Di sini adalah Kampung Man Barat,” Kuaidao akhirnya membuka suara. “Apa maksudnya?” tanya Anran dan Xiaoyao serentak. Lao Jiu duduk kembali, dia mulai sepertinya mampu menguasai dirinya kembali. “Pergi ke Kampung Man Barat kita akan melewati sebuah jembatan. Sedangkan pergi Kampung Man, tidak ada. Coba tebak apa yang kami temukan pada saat keluar?”

Saya sambil menutup mulut menjawab, “Jembatan?”

“Betul. Dan lebih buruknya lagi, jembatan itu sudah diruntuhkan. Di bawahnya merupakan lembah yang dalam. Walaupun sudah disapu oleh air hujan yang deras, tapi kami masih bisa melihat bahwa ada tanda-tanda jembatan diruntuhkan dengan alat… Kelihatannya ada orang yang memang ingin mengurung kita sampai mati kelaparan,” jawab Kuaidao.

“Pasti dia! Pasti orang itu yang melakukannya!” Saya sudah tidak tahan. Saya menceritakan pengalaman di hari pertama ke mereka secara lengkap.

“Berdasarkan cerita kamu, berarti Gaoyan adalah pelakunya? Aih Anran, bukankah Gaoyan ini teman kamu?” tanya Kuaidao.

Wajah Anran tiba-tiba berubah. “Sebetulnya ada satu hal saya tidak tahu apakah saya harus beri tahu kalian atau tidak. Semalam, saya mendapat panggilan telepon dari Gaoyan. Kode teleponnya area Beijing. Dia menjelaskan dirinya baru tiba dari Amerika. Dan tanya apakah temu daratnya sudah dimulai atau belum.”

Ketika kami mendengarkannya, kami pun mulai syok. Gaoyan yang asli ternyata tidak ikut. Jadi siapa orang itu yang menyamar sebagai Gaoyan. Anran sangat bingung. Gaoyan adalah teman semasa SMA dia. Walau sudah lama tidak bertemu, dia masih ingat rupanya. Lagipula acara temu darat ini adalah acara kecil. Sama sekali tidak terpikir olehnya ada orang yang sengaja menyamar menjadi Gaoyan.

Sampai kemarin dia mendapat telepon dari Gaoyan setelah perbincangan singkat kemudian terputus dikarenakan batere habis. Sekedar catatan Anran memiliki dua ponsel. Ponsel yang hilang adalah ponsel merah tua. Sedangkan ponsel pribadi dia tersimpan di celana jeannya,

Kuaidao langsung mencoba berpikir. “Dia mampu bertindak sejauh itu untuk membohongi kita. Apa motifnya? Untuk membantu dia menemukan harta karun? Tapi kalau hanya ingin menemukan harta karun, mengapa malah mencoba mengurung kita? Sesuai cerita tim yang nyasar hari pertama, mereka melihat orang yang sama persis dengan Gaoyan, saya bisa menebak paling sederhana. Dia adalah kembaran dari Gaoyan. Namun bagaimana cara dia hilang di gua? Dan sebetulnya apa yang terjadi pada Feiding?

“Bagaimanapun juga, kita harus segera menemukan Feiding. Tapi tanpa makanan apa yang harus kita lakukan? Begini terus kita tidak akan bertahan lama,” ucap Laojiu.

Setelah berdiskusi Kuaidao dan Laojiu memutuskan besok pagi akan mencoba pergi ke tepi tebing lagi, mencoba mencari cara untuk memanjat ke seberang, atau mungkin menggunakan batang pohon sebagai penyambung. Harus dilakukan selama masih ada tenaga untuk keluar dari kampung dan lapor polisi.

Gaoyan akhirnya kembali. Bajunya penuh robekan. Di bahu dan lehernya penuh dengan luka. Dia membawa sepuluh macam buah. Tetapi tidak ada satupun dari kami yang berani menyentuhnya. Takut buah-buahannya beracun. Hanya pada saat Anran mengambil salah satu, baru kami berani ambil juga.

Ketika melihat Anran berbalik arah, saya sekilas melihat dirinya menyeka air matanya dengan punggung tangannya cepat-cepat.

Bersambung…

Sumber : Ceritamistis.com

“Karyawan” Teladan Yang Ternyata Tidak Pernah Ada!

Kisah ini merupakan rumor yang beredar cukup luas di India sana. Ceritanya bertempat di salah satu kota di India bernama Gurgaon. Walau disebutkan kisah nyata, tetapi belum dapat dipastikan kebenarannya.

India terkenal sebagai salah satu tempat outsourcing yang dicari di negara barat. BPO (Business Process Outsourcing) Saffron adalah salah satunya. Salah satu layanan utama mereka adalah menjadi call center atau customer service untuk perusahaan-perusahaan barat sana.

Di perusahaan outsourcing ini ada seorang karyawati, kita sebut saja Ros. Karyawati yang sangat berdedikasi, rajin dan memberikan kinerja terbaik. Pihak atasan dan manajemen sangat puas dengan kemampuannya. Bisa dibilang, dia selalu dijadikan panutan dan inspirasi oleh manajemen untuk mendorong yang lainnya bekerja maksimal.

Kejadian ini bermula di satu hari. Saat itu sudah jam pulang. Hampir semua staff CS sudah pulang. Tiba-tiba ada satu telepon yang masuk. Ros yang mengangkat dan menjawab panggilan tersebut. Tidak ada yang aneh. Karena menjawab panggilan di dekat jam pulang mereka adalah hal lumrah.

Tetapi yang tidak wajar adalah panggilan ini sudah berjalan lama. Umumnya telepon yang masuk durasinya sekitar 5 menit. Mungkin ada satu atau dua kasus yang agak lama daripada biasanya. Tetapi yang ini lamanya mencapai 45 menit.

Waktu itu, Team Leader dan staf quality control masih di situ. Mereka tidak boleh pulang selama masih ada panggilan telepon berlangsung. Karena sudah terlalu lama, mereka memutuskan untuk mencoba mengecek pembicaraan yang terjadi untuk memastikan apakah mungkin Ros butuh bantuan.

Dan kejadian berikutnya betul-betul mengejutkan.

Tidak ada siapa-siapa di ujung telepon sana. Namun mereka melihat Ros berbicara terus menerus. Selama 45 menit.

Staf yang hadir di situ bingung, mengapa Ros berbicara sendiri selama itu? Tetapi karena dia adalah karyawan yang sangat mereka hormati dan merupakan yang terbaik, mereka tidak menanyakannya. Mungkin dia sedang depresi, mungkin sedang kelelahan dan sebagainya. Dan begitulah setelah telepon misterius itu selesai, semua pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, Ros tidak masuk. Ini masih pertama kalinya dia izin tanpa berita. Karena performanya yang selama ini sangat baik, pihak manajemen tidak terlalu mempermasalahkan. Tetapi ternyata hari berikutnya, dan berikutnya lagi dia tetap tidak masuk.

Karena sudah terlalu lama, mereka memutuskan untuk mencoba menghubungi Ros, bahkan sampai ke tempat tinggalnya, untuk memastikan semuanya baik-baik saja (mengingat adanya kejadian telepon waktu itu). Saat ditanyai di kos tempat tinggal, ternyata Ros tidak pernah tinggal di situ. Pemilik kos tidak mengenali adanya orang tersebut.

Mungkin dikhawatirkan terjadi apa-apa pada Ros, tim HR perusahaan berusaha untuk mencoba mengkontak keluarga Ros berdasarkan biodata dirinya saat melamar. Mereka berhasil melacak ke rumah orang tua Ros. Tetapi ada satu hal yang membuat orang-orang HR syok saat itu.

Ternyata Ros sudah meninggal 8 tahun yang lalu. Mereka memastikan Ros yang mereka cari adalah Ros yang sama yang selama ini bekerja di perusahaan mereka. Dan seperti itulah Ros menghilang begitu saja, dan tiba-tiba saja ternyata dia sudah wafat.

Sampai sekarang perusahaan masih menjadi misteri…

Sumber : Ceritamistis.com

Cerita Seram Karena Temu Darat (Part 3)

Hari Ketiga: Feiding Menghilang

Saya bangun dalam keadaan menggigil. Ketika membuka mata, alangkah terkejutnya saya dengan pemandangan di depan. Kami semua berada di luar gedung, tidur dengan posisi acak-acakan. Badan kami penuh dengan lumpur dan basah oleh air hujan semuanya.

Saya masih ingat semalam saya dan Xiaoyao menyarankan supaya malam itu juga kita pergi dari kampung ini. Tetapi yang lain tidak setuju, terutama si Gaoyan. Dia mengatakan bahwa tulang-tulang orang ini bisa saja adalah tulang pencari harta karun, yang berarti membuktikan bahwa ada harta karun tersembunyi di kampung ini.

Setelah berdiskusi sampai tengah malam, akhirnya sepakat untuk tetap tinggal di kampung. Apalagi semuanya juga penasaran dengan kampung ini.

Xiaoyao membalikkan badan dan duduk di atas tanah. Satu per satu pun mulai bangun. Gaoyan setengah linglung melihat sekeliling. Bajunya penuh dengan lumpur.

Saya tahu tatapan mata bengis dari balik jendela semalam itu. Tatapan yang penuh kebencian. Tetapi Gaoyan jelas-jelas bersama kami di dalam ruangan. Jadi siapa yang berdiri di luar itu? Apakah orang misterius itu adalah orang yang sama di Kampung Man Barat itu? Kenapa dia begitu mirip dengan Gaoyan. Mengapa tiba-tiba dia muncul di Kampung Man? Dan yang terpenting, bagaimana caranya menghilang dari balik gua?

Laojiu adalah orang pertama yang menyadari handphone-nya hilang. Yang lain pun ikut mengecek dan menyadari ponsel mereka telah hilang. Laojiu segera berlari masuk ke bangunan. Beberapa saat kemudian keluar lagi dengan wajah tegang.

“Ada kabar buruk untuk semuanya. Semua tas dan makanan kita sudah menghilang.” Semua orang terpana. Kuaidao melihat sekeliling kemudian berkomentar, “Di mana Feiding?”

Dari tadi kami terus berpikir mengapa bisa tidur di luar, tanpa menyadari kalau Feiding tidak ada. Kami pun segera mulai mencari ke sana kemari. Tetapi dicari sampai sore pun, tidak menemukan batang hidungnya. Dengan kata lain, Feiding telah hilang…

Dan yang membuat semakin aneh, tulang-tulang manusia di gua altar, sudah tidak ada lagi!

Kuaidao berkomentar, “Sebetulnya apa yang terjadi? Semalam secara tiba-tiba muncul tumpukan tulang manusia di gua. Sekarang hilang lagi! Apa mata kita rabun…”

Semua orang kembali ke bangunan dengan badan letih dan capek. Semuanya duduk tidak beraturan di lantai.

“Tidak bisa. Kita harus mencari tahu apa yang terjadi sebetulnya,” tukas Kuaidao, Laojiu mengangguk setuju, “Betul. Mari kita mulai dengan bayangan orang di luar jendela semalam. Mengapa dia mengintip kita. Jangan-jangan selain kita, ada orang lain lagi di Kampung Man ini? Terus bagaimana caranya menghilang di dalam gua altar? Lalu bagaimana kita bisa menjelaskan tumpukan-tumpukan tulang manusia di situ.”

Anran melanjutkan, “Lalu bagaimana menjelaskan kejadian tadi pagi. Mengapa kita bisa tidur di alam terbuka? Ada orang yang memindahkan kita keluar? Tapi untuk apa? Atau jangan-jangan kita mengalami tidur jalan bersama-sama?”

Kuaidao menggerak-gerakkan bola matanya, dan menjawab, “Mungkin ada orang yang memberi obat tidur ke kita.”

“Obat tidur? Bagaimana mungkin? Kita makan makanan yang kita bawa sendiri kok, ” Xiaoyao kurang percaya. Membicarakan makanan, semua orang menelan ludah. Laojiu lebih parah, perutnya berbunyi memprotes karena belum ada satu makanan pun yang masuk semenjak tadi pagi.

“Mungkin obat tidurnya dimasukkan ke minuman kita,” jawab Kuaidao dingin. Terkecuali Anran, semua orang menatap Gaoyan.

“Mengapa kalian melihat saya dengan tatapan begitu? Buat apa saya membius kalian. Lagipula saya sama seperti kalian bangun di luar bangunan. Barang-barang saya juga hilang. Camcorder saya masih baru beli sebulan. Itu 6.000 dolar tahu!” tukas Gaoyan sengit.

Anran ikut membela, “Gaoyan adalah teman saya. Dia tidak mungkin akan membubuhkan obat ke kita.”

Saya tidak tahan kemudian bertanya lagi, “Sekarang bagaimana ini. Bagaimana menemukan si Feiding?”

“Iya, apalagi handphone kita hilang. Coba kalau masih ada, tinggal hubungi si Feiding saja” timpal Xiaoyao. Lalu tiba-tiba matanya membelalak. “Jangan-jangan ini semua ulah Feiding? Dia mengambil semua barang kita dan lari dari sini?”

Semua orang terkejut mendengar ucapan Xiaoyao. Sambil menjulur lidah Xiaoyao berkata “Hanya bercanda. Saya melihat kalian semua begitu tegang, jadi mencoba mencairkan suasana. Tenang saja, Feiding begitu kuat, tidak mungkin terjadi apa-apa pada dia. Tapi motif orang misterius yang mengambil barang-barang kita sangat jelas. Dia bermaksud untuk memutus hubungan kita dengan dunia luar, dan mengurung kita lalu membiarkan kita mati kelaparan.”

Laojiu tidak sependapat, “Kalau memutuskan hubungan kita ke dunia luar, itu mungkin saja. Tapi mengurung dan membuat kita mati kelaparan sepertinya tidak memungkinkan. Dari sini menuju jalan bercabang hanya sekitar 20 menit. Dari situ kalau jalan ke kota K paling hanya beberapa jam saja.

Setelah berdiskusi sesaat, kami sepakat besok pagi Kuaidao dan Laojiu ke kota untuk membeli makanan. Gaoyan pergi ke atas gunung untuk mencari buah. Saya, Xiaoyao dan Anran tetap mencari Feiding. Kalau sampai besok tidak menemukan dia, kami terpaksa harus lapor polisi.

Sumber : Ceritamistis.com

Cerita Seram Karena Temu Darat (Part 2)

Hari Kedua : Altar Tulang Belulang

Pagi datang juga. Hujan pun sudah berhenti. Tanpa berbasa basi, kami pun langsung meninggalkan kampung aneh ini. Tiga orang yang tidak cukup tidur semalaman bersama orang misterius yang memegang kapak berkeliaran di luar semalaman betul-betul merupakan pengalaman buruk. Anehnya orang misterius itu tidak pernah mendekati kami. Mungkin orang gila. Kalau tidak, bagaimana mungkin ada orang yang sengaja di kampung yang sudah ditinggalkan ini? Memikirkan tatapan tajam penuh kebencian, bulu kuduk saya langsung berdiri.

Anran berdiri di depan Xiaoyao dan Kuaidao di depan gerbang Kampung Man menyambut kami. Anran tidak berbeda jauh dengan bayangan kami. Badan tinggi semampai, dengan rambut panjang, sungguh feminim. Xiaoyao sama seperti nickname-nya, tampil nyentrik, mengenakan topi matahari ditambah kaca mata hitam, dipadukan T-Shirt hitam, celana jeans. Kelihatan jelas seorang periang.

Sedangkan kakak yang berdiri di samping mengenakan kacamata berbingkai emas, terlihat dewasa dan ganteng, sudah pasti si Kuaidao. Xiaoyao, langsung menghampiri saya langsung memeluk saya. “Katanya kalian nyasar. Kami semalamam mengkhawatirkan kalian. Untunglah tidak apa-apa…” Saya sangat terharu sekali.

Anran yang berdiri di samping langsung celetuk “Duh, akrabnya.” Biarpun semuanya baru pertama kali saling bertemu langsung, tetapi tidak ada rasa kikuk di antara kami. Justru kami malah merasa sudah dekat. Laojiu pun berkata “Saya ingat Youyi pernah mendeskripsikan mata Anran. Kalau Anran sedang marah bentuknya bulat seperti bulan purnama. Kalau sedang tertawa bentuknya seperti bulan sabit.”

Mata Anran langsung melotot, “Kamu ngomong apa?”

“Ternyata memang bulat seperti purnama. Hahaha!” Kerumunan pun tertawa.

“Anran!” Sesosok pria muncul dari belakang sambil berlari kecil. Saya, Laojiu dan Feiding terhenyak. Bukankah pria itu adalah orang misterius semalam itu? Di saat kami masih bingung, Anran sudah memperkenalkannya. Namanya Gaoyan, seorang penulis naskah. Ketika sedang berjabat tangan, saya bisa merasakan tangannya yang dingin, seperti tidak ada hawa kehidupan. Seperti tangan orang mati saja.

Laojiu menarik Anran ke samping, “Siapa sih dia?”

Anran menjawab “Gaoyan. Bukannya tadi udah saya perkenalkan?”

Feiding ikut nimbrung ke situ “Semenjak semalam dia bersama kalian terus?”

Anran mengangguk-angguk sambil menatap kami dengan perasaan heran.

Saat itu, Kuaidao berteriak, “Karena semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai. Yuk keliling, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu.”

Di atas gunung, kita berkeliling tanpa tujuan seharian. Memang tempat ini sepertinya sudah terlantar sekali. Di atas gunung pun semuanya gersang dan tidak ada apa-apa sama sekali. Pada saat kami bermaksud kembali ke bangunan putih, Feiding berteriak, “Lihat! Apa itu?” Ternyata Feiding menemukan sebuah mulut gua dibalik semak-semak liar. Rasa penasaran kami pun bangkit kembali dan langsung menuju gua itu.

gua yang tertutup semak-semak

Di dekat gua tersebut terukir tulisan dengan karakter yang aneh. Kami menyalakan obor dan berjalan masuk. Ternyata setelah berjalan sesaat, kami sudah mencapai ujung gua.

Di dalamnya cukup luas, dengan pasir kering di lantainya. Di situ terdapat sebuah altar yang kelihatan sakral. Ditopang dengan enam pilar berwarna merah. Platform altar terdapat ukiran-ukiran yang sangat kompleks. Mungkin pantas disandingkan dengan keajaiban dunia. Yang membuat kami bergidik tidak hanya ukiran yang sangat indah itu, melainkan juga altar ini sendiri, secara keseluruhan dibentuk dari tulang belulang. Jika dilihat dari bentuknya, kemungkinan besar adalah tulang sapi. Tulang belulang ini ditumpuk-tumpuk sedemikian rupa sehingga berbentuk sebuah altar.

Ketika kembali ke gedung putih rasa penasaran saya mengenai kejadian semalam bertambah. Jadi saya langsung bertanya, “Sebetulnya tempat semalam yang kami pergi itu di mana yah? Mengapa bisa sama persis dengan Kampung di sini?” Saat itu Gaoyan sedang melihat video rekaman dia di gua tadi dengan camcoder-nya.

Setelah mendengar pertanyaan saya, dia meletakkan camcorder-nya, dan menjawab “Sebetulnya desa itu dibangun beberapa saat kemudian.” Sambil menyalakan rokok dia melanjutkan, “Dulu di kampung ini terdapat dua marga besar, Li dan Yang. Konon dikarenakan adanya konflik pada saat ritual leluhur, membuat mereka berseturu yang pada akhirnya memaksa kelompok Li diusir keluar dari desa. Kelompok Li ini akhirnya pindah dan menempati tempat baru. Mereka mendirikan struktur bangunan sesuai dengan struktur di Kampung Man. Kampung baru ini disebut Kampung Man Barat.

“Sepuluh tahun yang lalu, Kampung Man Barat terserang wabah penyakit yang menyapu seluruh penduduk di sana. Penyakit itu juga akhirnya menyebar ke Kampung Man. Akhirnya baik marga Li dan marga Yang semuanya meninggal, dan kampung-kampung ini pun menjadi terbengkalai.

“Konon menurut legenda, leluhur marga Li dan marga Yang ini memiliki harta karun. Dikarenakan itu keturunan mereka setiap generasi selalu tinggal di sini untuk melindungi harta karun itu. ”

Feiding begitu mendengar “harta karun” matanya langsung bersinar, “Serius ada harta karun?” Gaoyan tersenyum berjawab, “Saya sendiri tidak tahu. Saya lebih memilih percaya. Kalian di sini adalah novelis, pastinya analisa dan daya nalar kalian lebih baik. Siapa tahu kalian mampu menguak misteri dan benar-benar menemukan harta karunnya.”

Dia kemudian melanjutkan “Tadi altar yang kalian lihat itu, disebut Altar Tulang. Altar ini disebut terdiri dari seratus tulang belulang, sangat-sangat sakral.

Xiaoyao ikut nimbrung percakapan dan berkomentar, “Saya malah merasa seram.”

Otak Feiding yang sekarang dipenuhi dengan “harta karun” berkomentar, “Kalau saya benar-benar mendapat harta karun, saya bakal menulis buku ketiga.” Kami semua berkomentar dia gila kerja. Laojiu ikut berkomentar, “Duh kalau menulis novel beginian, penjualan sulit sekali.” Kami semua menoleh ke Laojiu. “Ternyata dia lebih gila kerja daripada aku,” ucap Feiding sambil tertawa.

Ketika sedang ramai-ramainya berdiskusi, Xiaoyao dengan panik berkata “Siapa itu?” Kami melihat ada bayangan orang berlari melewati jendela sekilas. Kami pun segera lari keluar mengejarnya. Bayangan tersebut berlari ke belakang gunung. Sesaat, kami melihat dia berlari memasuki gua altar tulang.

Sambil waspada kami perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam gua itu. Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, akhirnya kami tiba di ujung gua.

“Aneh! Di sini tidak ada jalan keluar. Bagaimana mungkin orang tersebut bisa menghilang!”

Kami mengecek sekeliling dengan seksama. Memang tidak ada jalan keluar yang lain.

Setelah pasrah kami pun berniat kembali. Tetapi Anran terantuk sesuatu hingga hampir jatuh. Kuaidao mengarahkan senter ke arah lantai. Ternyata di atas tanah terdapat tulang manusia! Dan tulang yang di dekat kaki Anran adalah tengkorak!

Saya, Anran dan Xiaoyao menjerit. Dari mana asal tumpukan tulang-tulang manusia itu?

Sumber : Ceritamistis.com

 

Cerita Seram Karena Temu Darat (Part 1)

Ketika membaca cerita seram, orang-orang terkadang bertanya-tanya apakah sang penutur cerita tersebut betul-betul mengalami peristiwa menyeramkan tersebut? Saya selama ini selalu beranggapan bahwa “seram” hanyalah sebuah sebutan. Dia hanyalah sebuah kiasan yang muncul di cerita atau di novel-novel hantu saja. Sampai akhirnya terjadi peristiwa di sebuah kampung. Saya baru sadar, seram itu berada di mana-mana. Mungkin saja kejadian seram bisa terjadi di dekat kamu saat ini.

Hari Pertama : Di Pertigaan

Tanggal 1 Oktober 2007, Saya bersama Laojiu tiba di bandara Taoxian di kota Shenyang. Setelah keluar dari bandara saya melihat ada di antara keramaian ada seorang pria dengan berpakaian T-shirt hitam, mengenakan kacamata hitam, tipikal orang Timur Laut (orang timur laut disini mengacu ke orang Manchuria di Tiongkok), memegang sebuah papan tertulis “Zhenghui”. Saya langsung mengenali orang itu, Feiding. Feiding pun sudah melihat kami.

Dia segera meletakkan papannya dan berjalan mendekati kami. Dia memukul dada Laojiu, “Baru sampai hah? Saya sudah menunggu kalian cukup lama,” sapa dia dengan logat khas orang Timur Laut yang kental. Ternyata peserta lain, Anran dan Kuaidao sudah jalan duluan.

Setelah makan siang kami pun berangkat dengan menumpang bus menuju kota K. Saya sangat penasaran dengan kampung Man ini. Anran waktu itu mengatakan bahwa kalau tempat temu daratnya di tempat wisata biasa, maka kesan tegangnya akan sedikit berkurang. Itu sebabnya yang lain pada setuju dengan usulnya.

Saya duduk di samping jendela tertidur. Sedangkan Laojiu dan Feiding berdiskusi akrab. Di tengah perjalanan, cuaca tiba-tiba berubah drastis. Sekelebat halilintar membelah langit. Bulir-bulir air sebesar kacang jatuh dari langit membasahi bumi. Akhirnya, perjalanan yang seharusnya memakan waktu empat jam, molor menjadi lima jam.

hujan

Ketika sampai di kota K, hari sudah sore. Kami bermaksud untuk menginap di kota K dulu, dan besoknya baru melanjutkan perjalanan. Tetapi Anran menelepon kami memerintahkan kami untuk segera pergi ke tempat tujuan hari itu juga. Jangan gegara badai, sehingga molor. Ketua sudah menurunkan perintah, dan kami tidak berani melawan. Jadi kami menghentikan sebuah mobil van untuk menuju Kampung Man.

Sejam kemudian mobil van berhenti di depan jalan bercabang. Dua-dua jalannya menuju ke arah kegelapan. Di depan jalan terdapat sebuah papan batu, tergores tulisan “Kampung Man”. Di sampingnya terdapat sebuah tanda panah yang menunjuk ke arah kiri.

jalan bercabang

Wajah sang sopir terlihat tegang. Dia segera meminta maaf dan mengatakan bahwa jalan ke depan sangat berlumpur, sehingga ban mobil gampang terjerumus ke dalam, lagipula Kampung Man dapat dicapai dengan jalan kaki selama 20 menit saja. Dia meminta kami turun di sini.

Mau tidak mau kami pun turun dan berjalan kaki di bawah rintik-rintik hujan. Untungnya hujan sudah mulai reda, namun angin kencang tidak berhenti berhembus. Sehingga pepohonan di samping kami terlihat seperti arwah-arwah gentayangan yang sedang menari. Rasa angker dan mistis di malam ini membuat saya merasa sedikit gugup. Untungnya Laojiu dan Feiding terus bercanda sehingga perjalanan 20 menit ini tidak terlalu menyiksa bagi saya.

Setelah melewati jembatan, kami merasa ada yang tidak beres. Hujan terus turun. Dengan bantuan kilat di langit, kami melihat kompleks kampung yang terlihat sudah diterlantarkan.

desa kosong

Di mana Anran mereka? Apakah kami salah jalan? Feiding seperti membaca pikiran kami pun celutuk “Apa kita salah jalan di cabang tadi?” Laojiu geleng-geleng kepala, mengambil ponselnya dan menghubungi Anran. “Kami sudah sampai.” Di seberang terdengar suara Anran, “Sudah sampai? Di mana, saya tidak melihat kalian sama sekali.”

“Kami juga tidak melihat kalian. Kampung ini kok sepertinya tidak ada yang tinggal?” jawab Laojiu.

Anran menjelaskan bahwa kampung ini memang sudah tidak ada penghuninya lagi. Lalu dia pun bertanya apakah ada melihat sebuah gedung putih dengan tiga lantai? Mereka ada di lantai dua. Kami melihat memang ada sebuah gedung putih tiga lantai. Tapi lantai duanya tidak orang!

Deskripsi Anran mengenai gedungnnya, sama persis dengan gedung yang berada di samping kami. Namun entah mengapa kami tidak bisa saling melihat, seolah-olah terpisah di suatu dimensi. Anran pun mulai panik, “Kalian sebetulnya sudah sampai mana sih.” Laojiu pun bertanya kembali, “Di jalan cabang pertigaan, habis itu lewat jembatan, betul kan?”

Anran pun bertanya “Jembatan? Jembatan yang mana?”

Akhirnya kami pun paham apa yang terjadi. Ternyata kami telah melewati jalan yang salah. Namun mengapa bisa salah jalan, padahal sudah mengikuti papan penunjuknya. Kecuali papan penunjuk sudah diganti oleh orang lain!

Tapi, kalau kita salah jalan, mengapa lokasi rumah dan deskripsi kampung ini sama persis dengan yang dibilang Anran? Kalau Anran mereka memang sudah ada di Kampung Man, lalu kami ini berada di mana? Memikirkannya membuat saya bergidik.

Langit yang dari tadi hanya rintik-rintik hujan tiba-tiba berubah menjadi badai hujan lagi. Suara petir memecah keheningan di tengah malam ini. Hujan deras turun tidak henti-hentinya.

Kami dengan terpaksa memasuki gedung putih untuk berlindung dulu satu malam. Tunggu setelah pagi baru mencari Anran mereka. Udara kampung pada malam hari memang dingin. Saya mengeluarkan jaket dari tas saya, tapi masih tetap merasa dingin.

Saya berbalik, dan melihat mereka sudah tidak berdiskusi masalah jalan bercabang tadi, tapi mengenai soal majalah “Penakut” dan masa depannya. Saya tidak bisa menyambung topik pembicaraan mereka, jadi hanya duduk melamun sambil memakan roti saya. Sampai tiba-tiba kilat menyambar dan saya memekik.

Saya melihat seorang pria mengenakan kaos putih yang tidak jauh dari gedung. Dia berdiri diam di sana. Menatap lurus ke saya dengan pandangan penuh kebencian.

Laojiu dan Dingfei kompak berdiri dan bertanya “Ada apa?”

“Ada orang…” pada saat saya balik arah melihat lagi, tidak ternyata di situ kosong tidak ada apa-apa. Gara-gara teriakan tadi, saya pun ditertawakan mereka dan disebut penakut. Jangan-jangan memang saya sedang halusinasi? Bagaimana mungkin?

Saya penasaran dan kembali melihat keluar jendela. Dengan memicingkan mata saya melihat pria tadi berdiri di balkon di rumah di seberang. Di tangannya memegang sesuatu. Kali ini saya tidak berteriak. Saya secara pelan-pelan memukul Laojiu, sambil berbisik “Coba lihat…”

Suasana di ruangan ini menjadi tegang. Dingfei bertanya “Ini kan kampung kosong, bagaimana mungkin ada orang?”

“Mungkin sama seperti kita, dia nyasar ke jalan lain?” pas saat Laojiu berbicara, muncul kilat menyinari dan terlihat tangan yang dipegang sang pria itu…

orang misterius memegang kapak

“Kapak, orang itu memegang kapak!” ujar Feiding gugup. Dalam waktu singkat pria misterius itu pun menghilang dari balik balkon. Laojiu mengerut alisnya, dengan suara kecil dia berkata “Sepertinya malam ini kita tidak akan bisa tidur nyenyak.”

Sumber : Ceritamistis.com

Pengalaman Melihat “Penampakan” Di Atas Pohon Pisang!

Hi Namaku Isaac Musaivan. Cerita ini terjadi saat aku SD kelas 2 di jalan dekat rumah bibiku…

Ceritanya aku diajak Mbah Kakungku ke rumah bibiku untuk menyiapkan warteg mbahku yang berada di wilayah pabrik. Waktu itu jam 2 pagi. Dia berkata “Van ikut nggak ke rumah Ibu?” “Ibu” di sini adalah sebutanku untuk bibiku.

Aku pun menjawab, “Ya aku ikut. Sebentar ya, aku mandi dulu.”

Setelah aku selesai mandi aku dan mbahku pun berangkat. Pas sampai di jalan dekat rumah ibuku, kurang lebih 10 sampai 15 meter, aku mulai merinding. Maklum di daerah dekat rumah ibuku masih banyak pepohonan, dan penerangan di daerah situ sangat minim. Kita tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas. Suasana angkernya juga sangat terasa.

Saat di jalan sekitar jam 3 pagi. Aku berkata pada mbahku “Mbah aku takut,” Maklum anak kecil. Mbahku pun menjawab “Ndak apa, ndak usah takut lha wong ndak ada apa apa kog,” balasnya dalam Bahasa Jawa. Ya karena mbahku sudah bilang begitu ya aku agak lega.

Saat itu aku naik motor yang dikendarai mbah. Sambil lihat sana sini, aku gak sengaja melihat ke arah kebun pisang, dan melihat kuntilanak sedang duduk di atas daun pisang!

Posisi duduknya kayak seperti orang semedi. Entah memang sedang semedi atau kebetulan saja. Seremnya lagi mukanya yang hancur, banyak darah bercucuran dari wajah, dengan matanya yang merah! Dan mata itu menatap lurus-lurus tertuju ke saya!

Seketika itu juga aku nggak bisa berbicara apa-apa. Sampai rumah ibu aku langsung minum yang banyak. Ini kebiasaan sehabis ketemu setan, terutama pocong. Baru setelah aku selesai minum kami langsung pergi ke warteg. Kembali di jalan, kita kebetulan melewati jalan tadi lagi, aku memberanikan diri untuk melihat kuntilanak itu lagi. Tetapi kali ini sudah tidak ada apa-apa disitu.

Aku tidak menceritakannya kepada siapapun saat itu. Aku baru berani ngasih tau pengalaman ini saat aku kelas 3 SD.

Sumber : Ceritamistis.com

Cerita Ketika Ayahku Melihat Penampakan Batu Kenteng Di Puncak Merbabu!

Ini cerita yang dialami ayahku waktu kuliah. Waktu itu ayahku mendaki gunung Merbabu bersama temannya yang bernama Agus. Saat mendaki Gunung Berbabu nggak ada apa-apa (normal).

Pas sampai puncak ayahku melihat sebuah kenteng (batu besar) yang berbentuk seperti lesung dan akhirnya ayahku beristirahat di dekat kenteng tersebut sedang Agus sedang menikmati pemandangan. Saat menuruni gunung ayahku tersesat. Ayahku dan temannya terus berusaha untuk mencari jalan yang tepat untuk menuruni gunung dan untungnya akhirnya ayahku menemukan sebuah perkampungan. Mereka bertanya ke warga ke mana jalan yang tepat untuk jalur menuruni gunung.

Tapi saat itu waktu sudah senja. Jadinya ayahku dan temannya menginap di kampung tersebut. Ayahku dan Agus pun malamnya ngobrol dengan warga di sebuah warung. Kemudian ayahku bertanya pada warga tersebut tentang kenteng di puncak gunung. “Pak kenteng di puncak gunung itu untuk apa ya?” (tapi pakek Bahasa Jawa)

Kemudian Agus bertanya keheranan “Kenteng yang mana? Nggak ada kenteng di puncak gunung tadi.”

Ayahku menjawab “Ada! Tadi kamu waktu menikmati pemandangan kamu kan memutarinya.”

Kemudian salah seorang warga pun berkata “Itu tanda wilayah makamnya Pangeran Samber Nyowo”

Kemudian salah seorang warga menyusul berbicara “Hanya orang-orang istimewa saja yang bisa melihat kenteng tersebut.”

– Ivan


Sekian cerita dari Ivan mengenai kisah ayahnya yang melihat kenteng yang ada di puncak gunung. Ada pendaki di sini yang pernah melihat kenteng tersebut?

Sumber : Ceritamistis.com

Kepercayaan Antara Kucing Dan Hantu (Part 4)

Teman saya yang paham Tao itu langsung melakukan ritual di dalam kamar asrama saya waktu itu juga. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya tidak sadar apa yang terjadi. Tapi sepertinya dia menghipnosis saya, soalnya dia menanyai saya beberapa pertanyaan (padahal saya tidak ingat). Setelah perbincangan dengan saya, akhirnya dia sangat yakin bahwa Jiwa Lahiriah saya telah hilang.

Dia bilang dia harus menemukan Jiwa Lahiriah saya secepat mungkin. Kalau tidak, maka saya akan sakit dan tidak bisa bangun selamanya…

Apa yang dia lakukan selanjutnya adalah sesuatu yang tidak saya paham. Dia mencabuti beberapa helai rambut saya, membungkusnya dengan kain kuning. Tidak lupa dia membawa baju basket yang dipakai saya malam itu. Dia bersama satu teman saya berangkat keluar. Sebelum keluar dia sempat menempelkan sebuah jimat pada badan saya dan meminta satu teman lagi untuk menjaga saya.

Teman Tao kemudian bertemu dengan mahasiswi yang meninggal itu di tempat kejadian lagi. Mahasiswi itu mengatakan bahwa yang seharusnya mati adalah salah satu dari kami bertiga bukannya dia. Kami berhasil menghindar, dan dia yang tidak mengerti malah menjadi tumbal arwah jahat di dalam kucing itu.

Dia tidak terima kejadian yang menimpanya. Jadi dia ingin membalas dendam dan menjadikan kami tumbal bagi dirinya. Dikarenakan di antara kami bertiga, satu memiliki kemampuan Tao sedangkan yang satu lagi kebetulan mahisiswi itu kenal (hantu biasanya tidak akan mencelakai saudara atau temannya sendiri), jadi dia mengincar saya. Kebetulan pada saat itu saya juga tidak membawa jimat.

Setelah itu selanjutnya tidak jelas lagi. Mengenai bagaimana cara teman saya mengembalikan jiwa saya kembali, dia tidak bisa menceritakan ke saya dengan gamblang, sebab ini sifatnya rahasia. Tetapi dia tetap meminta saya pada hari berikutnya langsung pulang ke rumah, cari orang pintar untuk mengembalikan seluruh roh dan jiwa saya ke semula. Jika semua roh dan jiwa kembali, maka proses pengobatan penyakit akan lebih gampang.

Ternyata jimat yang teman kami suruh pakai ini adalah jimat untuk mempertahankan tiga jiwa. Kalau saja pada saat bermain basket saya juga membawanya, sudah pasti tidak akan mengalami kejadian seperti ini.

Semenjak insiden itu, jimat yang diberikan teman Tao saya itu terus saya pakai dan tidak berani lagi dibiarkan meninggalkan badan saya…

Saya kebetulan agak penasaran mengenai mahasiswi yang meninggal itu, jadi sempat bertanya ke teman saya, apakah mahasiswi itu akan tetap “di sana” mencari pengganti untuk dirinya? Apakah saya kelak akan bertemu dengan dia lagi? Teman saya hanya menjawab bahwa saya sangat beruntung, kalaupun kelak bertemu lagi, dia tidak akan bisa menyakiti saya lagi. (Saya tidak mengerti mengapa begitu, tetapi yang jelas arwah perempuan itu masih ada di sana)

Lalu apakah hantu di koridor yang saya “lihat” belakangan itu adalah hantu yang sama? Ataukah hanya karena ditindih? Saya sendiri tidak pasti..

Sebetulnya dalam hati saya terus berharap semoga mahasiswi malang itu bisa secepatnya melepaskan seluruh dendamnya, melepaskan segala ikatan, meninggalkan dunia fana ini dan segera bereinkarnasi kembali.

Sebetulnya dulunya saya tidak begitu tertarik dengan dunia mistis. Namun semenjak terkena insiden itu, entah mengapa saya sepertinya menjadi sering mengalami kejadian mistis. Kata salah satu teman saya, itu dikarenakan saya sudah “dibuka”.

Semenjak itu, sedikit banyak saya terus mengalami kejadian yang sulit dipercaya, yang membuat saya semakin menghormati hal-hal yang bersifat spritual dan tidak berani menghina atau mengolok-oloknya.

Sumber : Ceritamistis.com

Cerita Rumahku Yang Angker Karena Koleksi Barang Antik!

Saya berasal dari kota S**** dari Kalimantan Barat, dan cerita yang saya tulis di bawah ini berkisah tentang pengalaman pribadi saya dan keluarga di rumah saya sendiri.

Rumah saya dan keluarga dibangun oleh ayah saya sejak tahun 2006. Rumah yang tergolong baru dan tidak ada kesan angkernya jika dilihat dari tahun pembuatan. Yang membuat rumah ini menjadi seram bagi saya sekeluarga serta teman dan tetangga saya tentang rumah ini adalah koleksi barang-barang antik ayah saya yang mencapai ribuan di dalam rumah ini, yang tidak bisa dipungkiri masing-masing barang ada sejarahnya dan terkadang ada penunggunya, sehingga tidak sedikit kejadian mistis yang terjadi di rumah saya. Seperti yang paling ringan ya pintu diketuk-ketuk tetapi tidak ada orang, suara orang menyerupai ibu saya memanggil tetapi ketika saya tanya, beliau tidak ada memanggil saya

Dan pada suatu ketika, saat saya masih SMA, pada waktu itu sedang ada acara di sekolah dan kebetulan saya jadi panitia. Jadi malam sebelum hari H saya tidak tidur dari malam hingga acara selesai pada jam 3 sore. Sesampai di rumah, saya mandi, makan, dan sebagainya, lalu pergi ke kamar untuk tidur. Saya seperti orang pada umumnya tidak bisa tidur dalam keadaan terang meskipun sudah lelah. Jadi saya mematikan semua lampu kamar dan menyisakan lampu watt kecil untuk tidur, kamar saya tergolong besar dengan ukuran mungkin 8×9. Singkatnya besok pagi sekitar jam 8 saya bangun dan menemui ibu saya di dapur lalu beliau bercerita pada malam saat saya tidur ketika beliau lewat kamar saya (kebetulan pintunya terbuka) beliau melihat sesosok mahluk dengan rambut panjang dan baju putih lusuh di dekat tempat tidur saya.

Pada awalnya saya tidak percaya dengan cerita beliau namun ternyata bukan hanya ibu saya sendiri yang melihat melainkan adik saya yang laki-laki juga melihat mahluk tersebut berdiri diam di samping tempat tidur saya tanpa rasa kepedulian dengan saya mereka pergi untuk memanggil ayah saya di rumah tetangga hahaha. Namun ketika ibu saya balik ke rumah beserta ayah dan adik saya mahluk tersebut sudah hilang…

Sampai sekarang saya masih penasaran apa maksud dari mahluk tersebut berdiri di samping tempat tidur saya seperti memperhatikan saya itu…

Sumber : Ceritamistis.com

Kepercayaan Antara Kucing Dan Hantu (Part 3)

Pada saat berdiri, wanita itu juga perlahan-lahan mulai mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk. Perlahan-lahan saya pun mulai melihat matanya yang mengarah ke saya. Mata kami saling bertatapan. Sorot dingin mata di wajah pucatnya penuh dengan kebencian.

Sorot matanya terasa menusuk saya. Saya tidak hanya merinding dan gemetaran. Saya rasa saya juga sudah berhenti bernapas. Saya melihat tangan wanita itu memegang kucing kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Dengan sepenuh tenaga dia membanting kucing itu ke aspal! Tepat di depan saya…

Akibat bantingan keras itu, si kucing malang itu terlihat terluka parah. Saya bahkan bisa melihat mulutnya keluar darah. Dan kucing itu tidak henti-hentinya mengeong.

Beberapa saat, sebuah bus dari arah gerbang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah sini. Si perempuan itu dengan kakinya menginjak kucing. Dia tersenyum menyeringai!

Saya hanya bisa terpana, antara bingung, takut, marah, iba, melihat pemandangan itu.

WOI!!!

Tiba-tiba saya tersadar dari lamunan saya. Ternyata yang barusan teriak adalah teman basket. Dari tadi mereka terus memanggil saya. Begitu saya tersadar, saya melihat ke arah jalan… Tidak ada wanita, tidak ada kucing.

Teman-teman pada tanya kenapa dari tadi bengong berdiri di tengah jalan begitu? Mereka heran mengapa saya berdiri diam, padahal bola basket hanya ada di kaki saya. Saya tidak bilang apa-apa ke mereka. Saya sudah terlalu lemas untuk bermain. Saya bahkan sudah tidak kuat untuk berdiri lagi, jadi saya mohon pamit dulu dengan mereka.

Setelah saya kembali ke asrama, pada hari itu juga saya demam, dan dalam tidur tidak henti-hentinya mengigau. Pas saat teman saya yang paham Tao itu balik, saya ceritakan kejadian itu. Dia kemudian memaksa saya untuk minta izin supaya segera pulang ke rumah keesokan harinya.

Waktu itu di tengah malam, teman sekamar memberikan saya obat demam. Tidak lebih dari beberapa jam, akhirnya suhu badan saya kembali normal. Tetapi antara sadar dan tidak, saya terus menerus mengingau. Akhirnya teman tao saya pun mengguncang badan saya keras-keras, menampar wajah saya, memanggil-manggil saya supaya sadar. Kata dia, dia sebetulnya sedang mengecek apakah jiwa saya masih ada di dalam tubuh saya. Kalau tidak, maka masalahnya akan parah.

Saya akan mencoba menjelaskan dulu apa yang dia sempat jelaskan itu agar nyambung. Mohon maaf sebelumnya jika kurang tepat, karena saya sendiri awam. Di dalam Tao ada konsep 三魂七魄 (baca: sān hún qī pò) yang secara literal artinya tiga jiwa dan tujuh roh ini. Manusia memiliki 3 jiwa yakni Jiwa Utama, Jiwa Lahiriah, Jiwa Perasa (ada juga yang menyebutnya Jiwa Langit, Jiwa Bumi, dan Jiwa Manusia). Jiwa Utama fungsinya mengatur mental kesadaran seseorang, Jiwa Lahiriah berkaitan dengan kesehatan jasmaniah, dan Jiwa Perasa berkaitan dengan panca indra.

Tujuh roh yang ada di badan, masing-masing memiliki fungsi penting yang memungkinkan adanya hubungan antara Jiwa Lahiriah dengan Jiwa Perasa dalam melindungi sistem tubuh. Umumnya ketika seseorang terkejut maka yang hilang hanyalah roh-nya (pò) saja. Cukup dengan mengatur pernapasan, dan tergantung kemampuan seseorang, roh cepat lambat akan terwujud kembali. Umumnya, jiwa(hún) tidak akan meninggalkan tubuh. Hanya pada saat kondisi antara hidup mati (penyakit kronis, kecelakaan) baru bisa kejadian jiwa meninggalkan badan. Disamping hal natural, sebenarya masih ada satu lagi yang bisa membuat jiwa meninggalkan badan. Yakni direbut orang(dukun) ataupun hantu!

Dalam kepercayaan Tao, ketika manusia meninggal, Jiwa Utamanya akan mengalami proses reinkarnasi, Jiwa Lahiriah akan berada di plakat altar, Jiwa Perasa akan tertinggal di tubuh. Arwah-arwah gentayangan yang tidak bisa bereinkarnasi itu, akan mencari manusia pengganti guna mendapatkan Jiwa Utamanya. Tetapi untuk merampas Jiwa Utama ini tidak sesederhana yang dibicarakan. Manusia memiliki unsur Yang yang melindungi dirinya, jadi umumnya makhluk-makhluk halus tidak bisa apa-apa terhadap manusia.

Oleh karena itu ada roh jahat yang akan mencoba merampas Jiwa Lahiriah atau Jiwa Perasa terlebih dahulu. Orang yang kehilangan salah satu Jiwa ini akan mengalami sakit-sakitan, atau bahkan membuat kondisi psikisnya tidak normal. Ini akan mengakibatkan Jiwa Utama sedikit banyak terganggu. Kalau tidak segera menemukan kembali Jiwa ke tubuh asal, maka orang itu bisa saja akan meninggal, dan otomatis Jiwa Utamanya pun meninggalkan tubuh.

Hanya saja Jiwa Lahiriah dan Jiwa Perasa yang telah dirampas oleh arwah jahat akan bergentayangan. Biasanya mereka akan gentayangan di sekitar tempat kejadian. Menunggu untuk kembali ke tubuh. Itu sebabnya pendeta Tao selalu ke tempat kejadian perkara untuk mencari kembali Jiwa yang hilang..

Namun, ada hantu-hantu yang lebih kuat dan hebat. Mereka bisa dengan sengaja menambah rintangan di sekitaran tempat kejadian perkara, supaya sang korban gagal mendapatkan jiwanya yang dirampas, sehingga meninggal dan pada akhirnya bisa dijadikan pengganti untuk dirinya…

Ok, saya akan lanjut ceritanya kembali. Kisah ini murni saya dengar dari teman saya, karena jujur saat itu saya sudah tidak sadarkan diri sama sekali lagi…

Sumber : Ceritamistis.com