Karna Kesal Dicuekin, Dosen Ini Akhirnya Pake Cosplay!

Ahli mengatakan kalau manusia itu cuma bisa mempertahankan konsentrasi selama 10 menit saja, setelah itu maka fokus akan terbagi dan konsentrasi hilang. Makanya, ketika kita sedang mendengarkan penjelasan dari guru atau dosen di depan kelas yang begitu monoton, maka konsentrasi kita akan cepat hilang. Rasa ngantuk dan bosan mulai datang menyerang sehingga memilih mengalihkan perhatian ke hal lain.

Akibatnya, pelajar atau mahasiswa jadi tidak bisa menangkap penjelasan apa yang sedang diutarakan oleh pengajar di depan kelas. Untuk itu, guru, dosen, atau para pembicara harus kreatif melakukan ice breaking supaya audiens kembali fokus. Seperti yang dilakukan oleh seorang dosen di Malaysia ini. Dia mempunyai sebuah ide yang unik sehingga fokus dan konsentrasi mahasiswa tetap terpaku kepadanya.

Dosen bernama Kamarul Ariffin Ahmad ini merupakan Dosen Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Perak, Malaysia. Dia menyadari kalau mahasiswanya kerap tidak konsentrasi saat dia menjelaskan. Karena itu, dia lalu berdandan cosplay saat mengajar di kelas. Kamarul mengajar mata kuliah Bahasa Inggris dan sering berganti-ganti kostum saat mengajar.

Kostum yang pernah dipakainya mulai dari kostum ala raja, kostum seperti robot, dan yang terbaru adalah dia mengenakan kostum ala karakter Maleficent. Kamarul sendiri bukanlah dosen sok asik yang minim pengalaman mengajar. Dia sudah menjadi dosen selama 10 tahun, dan separuhnya dia habiskan dengan mengabdi di UPSI sampai hari ini. Jadi, dia sudah khatam betul karakteristik mahasiswanya. Dan memang terbukti kalau mahasiswanya menyukai tindakan Kamarul untuk memperlihatkan sesuatu yang “baru dan menyegarkan”. Mana ada dosen-dosen lain yang melakukan cosplay kayak gini, kan? Salah seorang mahasiswi kemudian mengunggah aksi cosplay Kamarul ke Twitter dan menjadi viral di media sosial. Kamarul kemudian buka-bukaan alasan dirinya memakai kostum saat mengajar. Ketika saya datang sebagai karakter, mereka merasa tidak terlalu cemas karena saya bukan β€œguru” mereka lagi. Saya sudah menjadi orang lain,” kata Kamarul.

 

Kamarul mengakui kalau menjadi seorang pengajar bukanlah hal mudah. Harus mampu mengontrol emosi diri sendiri dan sebaliknya harus mampu memantik emosi dan minat audiens. Di saat yang sama, dia juga harus berusaha mentransfer ilmu pengetahuan kepada audiens. Pengalamannya mengajar selama 10 tahun membuat dia menyadari kalau teknik inilah yang paling cocok untuk dia terapkan.

Kamarul berharap aksinya ini bisa menginspirasi para pendidik lain di Malaysia atau di negara lainnya untuk mencari cara mengajar baru supaya mahasiswa lebih aktif dan terbuka. Unik banget, kan idenya? Tapi, ane kurang yakin kalau ide ini bisa diterapkan di Indonesia. Ntar yang ada para siswa malah ngebully dan menghina guru yang berusaha kreatif dalam mengajar. Bagaimana menurutmu?

Sumber

Leave a Reply