Cerita Seram Karena Temu Darat (Part 4)

Hari Keempat: Putus Asa

Pagi itu hujan turun dengan deras. Semuanya sudah tidak makan satu hari satu malam. Kalau tidak fokus cari makan, dikhawatirkan semuanya tidak akan bisa bertahan lagi. Untungnya di kantong Kuaidao masih tersisa 200 dolar. Kalau sampai uang itu hilang, maka uang untuk beli makanan pun tidak ada.

Kuaidao dan Laojiu tanpa banya berbicara pun langsung menerobos hujan berangkat. Gaoyan tanpa basa basi juga langsung berangkat mencari buah.

Anran berdiri diam di depan pintu. Semenjak kami bangun tadi pagi Anran sudah terlihat sepertinya ada perasaan tidak tenang dan galau. Dia menatap saya, kemudian menatap Xiaoyao, kemudian berkata, “Maafkan saya. Sebetulnya saya bermaksud memanfaatkan hari libur ini untuk ajang kumpul-kumpul supaya lebih saling kenal…. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Feiding, saya tidak akan bisa memaafkan saya sendiri!”

Melihat mata Anran memerah, saya dan Xiaoyao pun hampir menangis dibuatnya. Xiaoyao dengan memaksa tampil rileks berkata, “Jangan khawatir, Anran. Mungkin saja si Feiding memang sengaja menyembunyikan makanan untuk usil.” Saya ikut menimbrung, “Iya Anran. Feiding pasti tidak apa-apa.”

“Betul. Dia masih belum berhasil menggali harta karun, bagaimana mungkin terjadi sesuatu pada dia,” lanjut Xiaoyao. Anran akhirnya tertawa, walaupun terlihat seperti dipaksakan. Dengan tatapan mata yang masih kosong dia berkata, “Ayo kita cari dia. Kalau sudah ketemu kita tonjok dia keras-keras.”

Feiding masih saja belum ditemukan. Badan kami sudah basah gara-gara kehujanan sekian lama. Dalam kedinginan, kami berjalan kembali ke bangunan. Ketika sampai di dalam ternyata Kuaidao dan Laojiu sudah ada di dalam. Kami semuanya terkejut sekaligus heran.

Anran pun bertanya, “Bukankah kalian pergi ke kota untuk beli makanan? Kok sudah kembali?” Kedua orang itu hanya diam terpaku tidak menjawab. Seperti patung saja. Anran terus bertanya. Dan mereka tetap diam. Pada saat itulah saya merasakan kengerian.

“Di sini adalah Kampung Man Barat,” Kuaidao akhirnya membuka suara. “Apa maksudnya?” tanya Anran dan Xiaoyao serentak. Lao Jiu duduk kembali, dia mulai sepertinya mampu menguasai dirinya kembali. “Pergi ke Kampung Man Barat kita akan melewati sebuah jembatan. Sedangkan pergi Kampung Man, tidak ada. Coba tebak apa yang kami temukan pada saat keluar?”

Saya sambil menutup mulut menjawab, “Jembatan?”

“Betul. Dan lebih buruknya lagi, jembatan itu sudah diruntuhkan. Di bawahnya merupakan lembah yang dalam. Walaupun sudah disapu oleh air hujan yang deras, tapi kami masih bisa melihat bahwa ada tanda-tanda jembatan diruntuhkan dengan alat… Kelihatannya ada orang yang memang ingin mengurung kita sampai mati kelaparan,” jawab Kuaidao.

“Pasti dia! Pasti orang itu yang melakukannya!” Saya sudah tidak tahan. Saya menceritakan pengalaman di hari pertama ke mereka secara lengkap.

“Berdasarkan cerita kamu, berarti Gaoyan adalah pelakunya? Aih Anran, bukankah Gaoyan ini teman kamu?” tanya Kuaidao.

Wajah Anran tiba-tiba berubah. “Sebetulnya ada satu hal saya tidak tahu apakah saya harus beri tahu kalian atau tidak. Semalam, saya mendapat panggilan telepon dari Gaoyan. Kode teleponnya area Beijing. Dia menjelaskan dirinya baru tiba dari Amerika. Dan tanya apakah temu daratnya sudah dimulai atau belum.”

Ketika kami mendengarkannya, kami pun mulai syok. Gaoyan yang asli ternyata tidak ikut. Jadi siapa orang itu yang menyamar sebagai Gaoyan. Anran sangat bingung. Gaoyan adalah teman semasa SMA dia. Walau sudah lama tidak bertemu, dia masih ingat rupanya. Lagipula acara temu darat ini adalah acara kecil. Sama sekali tidak terpikir olehnya ada orang yang sengaja menyamar menjadi Gaoyan.

Sampai kemarin dia mendapat telepon dari Gaoyan setelah perbincangan singkat kemudian terputus dikarenakan batere habis. Sekedar catatan Anran memiliki dua ponsel. Ponsel yang hilang adalah ponsel merah tua. Sedangkan ponsel pribadi dia tersimpan di celana jeannya,

Kuaidao langsung mencoba berpikir. “Dia mampu bertindak sejauh itu untuk membohongi kita. Apa motifnya? Untuk membantu dia menemukan harta karun? Tapi kalau hanya ingin menemukan harta karun, mengapa malah mencoba mengurung kita? Sesuai cerita tim yang nyasar hari pertama, mereka melihat orang yang sama persis dengan Gaoyan, saya bisa menebak paling sederhana. Dia adalah kembaran dari Gaoyan. Namun bagaimana cara dia hilang di gua? Dan sebetulnya apa yang terjadi pada Feiding?

“Bagaimanapun juga, kita harus segera menemukan Feiding. Tapi tanpa makanan apa yang harus kita lakukan? Begini terus kita tidak akan bertahan lama,” ucap Laojiu.

Setelah berdiskusi Kuaidao dan Laojiu memutuskan besok pagi akan mencoba pergi ke tepi tebing lagi, mencoba mencari cara untuk memanjat ke seberang, atau mungkin menggunakan batang pohon sebagai penyambung. Harus dilakukan selama masih ada tenaga untuk keluar dari kampung dan lapor polisi.

Gaoyan akhirnya kembali. Bajunya penuh robekan. Di bahu dan lehernya penuh dengan luka. Dia membawa sepuluh macam buah. Tetapi tidak ada satupun dari kami yang berani menyentuhnya. Takut buah-buahannya beracun. Hanya pada saat Anran mengambil salah satu, baru kami berani ambil juga.

Ketika melihat Anran berbalik arah, saya sekilas melihat dirinya menyeka air matanya dengan punggung tangannya cepat-cepat.

Bersambung…

Sumber : Ceritamistis.com

Leave a Reply