Cerita Seram Karena Temu Darat (Part 3)

Hari Ketiga: Feiding Menghilang

Saya bangun dalam keadaan menggigil. Ketika membuka mata, alangkah terkejutnya saya dengan pemandangan di depan. Kami semua berada di luar gedung, tidur dengan posisi acak-acakan. Badan kami penuh dengan lumpur dan basah oleh air hujan semuanya.

Saya masih ingat semalam saya dan Xiaoyao menyarankan supaya malam itu juga kita pergi dari kampung ini. Tetapi yang lain tidak setuju, terutama si Gaoyan. Dia mengatakan bahwa tulang-tulang orang ini bisa saja adalah tulang pencari harta karun, yang berarti membuktikan bahwa ada harta karun tersembunyi di kampung ini.

Setelah berdiskusi sampai tengah malam, akhirnya sepakat untuk tetap tinggal di kampung. Apalagi semuanya juga penasaran dengan kampung ini.

Xiaoyao membalikkan badan dan duduk di atas tanah. Satu per satu pun mulai bangun. Gaoyan setengah linglung melihat sekeliling. Bajunya penuh dengan lumpur.

Saya tahu tatapan mata bengis dari balik jendela semalam itu. Tatapan yang penuh kebencian. Tetapi Gaoyan jelas-jelas bersama kami di dalam ruangan. Jadi siapa yang berdiri di luar itu? Apakah orang misterius itu adalah orang yang sama di Kampung Man Barat itu? Kenapa dia begitu mirip dengan Gaoyan. Mengapa tiba-tiba dia muncul di Kampung Man? Dan yang terpenting, bagaimana caranya menghilang dari balik gua?

Laojiu adalah orang pertama yang menyadari handphone-nya hilang. Yang lain pun ikut mengecek dan menyadari ponsel mereka telah hilang. Laojiu segera berlari masuk ke bangunan. Beberapa saat kemudian keluar lagi dengan wajah tegang.

“Ada kabar buruk untuk semuanya. Semua tas dan makanan kita sudah menghilang.” Semua orang terpana. Kuaidao melihat sekeliling kemudian berkomentar, “Di mana Feiding?”

Dari tadi kami terus berpikir mengapa bisa tidur di luar, tanpa menyadari kalau Feiding tidak ada. Kami pun segera mulai mencari ke sana kemari. Tetapi dicari sampai sore pun, tidak menemukan batang hidungnya. Dengan kata lain, Feiding telah hilang…

Dan yang membuat semakin aneh, tulang-tulang manusia di gua altar, sudah tidak ada lagi!

Kuaidao berkomentar, “Sebetulnya apa yang terjadi? Semalam secara tiba-tiba muncul tumpukan tulang manusia di gua. Sekarang hilang lagi! Apa mata kita rabun…”

Semua orang kembali ke bangunan dengan badan letih dan capek. Semuanya duduk tidak beraturan di lantai.

“Tidak bisa. Kita harus mencari tahu apa yang terjadi sebetulnya,” tukas Kuaidao, Laojiu mengangguk setuju, “Betul. Mari kita mulai dengan bayangan orang di luar jendela semalam. Mengapa dia mengintip kita. Jangan-jangan selain kita, ada orang lain lagi di Kampung Man ini? Terus bagaimana caranya menghilang di dalam gua altar? Lalu bagaimana kita bisa menjelaskan tumpukan-tumpukan tulang manusia di situ.”

Anran melanjutkan, “Lalu bagaimana menjelaskan kejadian tadi pagi. Mengapa kita bisa tidur di alam terbuka? Ada orang yang memindahkan kita keluar? Tapi untuk apa? Atau jangan-jangan kita mengalami tidur jalan bersama-sama?”

Kuaidao menggerak-gerakkan bola matanya, dan menjawab, “Mungkin ada orang yang memberi obat tidur ke kita.”

“Obat tidur? Bagaimana mungkin? Kita makan makanan yang kita bawa sendiri kok, ” Xiaoyao kurang percaya. Membicarakan makanan, semua orang menelan ludah. Laojiu lebih parah, perutnya berbunyi memprotes karena belum ada satu makanan pun yang masuk semenjak tadi pagi.

“Mungkin obat tidurnya dimasukkan ke minuman kita,” jawab Kuaidao dingin. Terkecuali Anran, semua orang menatap Gaoyan.

“Mengapa kalian melihat saya dengan tatapan begitu? Buat apa saya membius kalian. Lagipula saya sama seperti kalian bangun di luar bangunan. Barang-barang saya juga hilang. Camcorder saya masih baru beli sebulan. Itu 6.000 dolar tahu!” tukas Gaoyan sengit.

Anran ikut membela, “Gaoyan adalah teman saya. Dia tidak mungkin akan membubuhkan obat ke kita.”

Saya tidak tahan kemudian bertanya lagi, “Sekarang bagaimana ini. Bagaimana menemukan si Feiding?”

“Iya, apalagi handphone kita hilang. Coba kalau masih ada, tinggal hubungi si Feiding saja” timpal Xiaoyao. Lalu tiba-tiba matanya membelalak. “Jangan-jangan ini semua ulah Feiding? Dia mengambil semua barang kita dan lari dari sini?”

Semua orang terkejut mendengar ucapan Xiaoyao. Sambil menjulur lidah Xiaoyao berkata “Hanya bercanda. Saya melihat kalian semua begitu tegang, jadi mencoba mencairkan suasana. Tenang saja, Feiding begitu kuat, tidak mungkin terjadi apa-apa pada dia. Tapi motif orang misterius yang mengambil barang-barang kita sangat jelas. Dia bermaksud untuk memutus hubungan kita dengan dunia luar, dan mengurung kita lalu membiarkan kita mati kelaparan.”

Laojiu tidak sependapat, “Kalau memutuskan hubungan kita ke dunia luar, itu mungkin saja. Tapi mengurung dan membuat kita mati kelaparan sepertinya tidak memungkinkan. Dari sini menuju jalan bercabang hanya sekitar 20 menit. Dari situ kalau jalan ke kota K paling hanya beberapa jam saja.

Setelah berdiskusi sesaat, kami sepakat besok pagi Kuaidao dan Laojiu ke kota untuk membeli makanan. Gaoyan pergi ke atas gunung untuk mencari buah. Saya, Xiaoyao dan Anran tetap mencari Feiding. Kalau sampai besok tidak menemukan dia, kami terpaksa harus lapor polisi.

Sumber : Ceritamistis.com

Ads2

Be the first to comment

Leave a Reply