Kisah Tukang Kebun Cagar Budaya Botoputih yg Tak Digaji 20 Tahun. Mana Pemerintah??

Sore itu, Ju’i tengah membakar daun-daun kering yang telah dikumpulkannya. Dia menjaga agar api yang disulutnya tidak menyebar ke daerah sekitarnya. Ju’i adalah lelaki berusia 66 tahun yang menjadi tukang kebun di Cagar Budaya Botoputih, Surabaya.

“Jadi tukang kebun di sini sejak kerusuhan Soeharto. Sekitar tahun 1998 lah,” kata Ju’i kepadaku, Selasa (19/2).

Aku bertemu dengannya di penghujung senja. Kala itu jarum jam menunjukkan pukul 17.01 WIB. Langit sudah membiru gelap. Senandung tarhim (pujian kepada Allah dan Rasul) bersautan di langit Kota Pahlawan. Para lelaki yang menggunakan sarung dan peci hilir mudik menuju rumah ibadah. Pertemuanku dengannya menjadi sinar bagi harapan yang perlahan sudah meredup.

“Pak, kalau makam Ibu Soeharsikin tahu gak?” tanyaku kepada Ju’i. Dia segera meletakkan sapu lidi yang dipegangnya. Dari sekian tukang kebun yang berada di sana, hanya Ju’i yang tahu keberadaan makam yang aku cari. Lebih dari 30 menit untuk menemukan satu dari ratusan makam yang ada di sana.

“Oh kalau Soeharsikin di sana. Ayo saya anterin,” kata dia sembari mengajakku.

1. Makam seorang istri pahlawan bangsa dalam keadaan tak terurus

Kisah Tukang Kebun Cagar Budaya Botoputih Tidak Digaji Selama 20 Tahun

Saat itu, aku tengah menyibukkan diri untuk mengumpulkan catatan tentang Soeharsikin. Ia merupakan istri dari “sang guru bangsa” Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Ironisnya, dari sekian peziarah, tukang kebun, hingga tukang parkir, tak ada satu pun yang mengetahui siapa itu Tjokroaminoto.

Begitu pula dengan Ju’i. Saat tiba dimana Soeharsikin beristirahat, aku bertanya, “Bapak tahu gak kalau ini istrinya Tjokroaminoto?”

Mendengar pertanyaanku, Ju’i buru-buru menjawab bahwa dia tak tahu siapa Soeharsikin. “Gak tahu, saya mah tahunya keluarga ada yang ziarah aja setiap 3 bulan,” jawabnya.

Sedikit miris bagiku. Padahal, sejarah mencatat, dari tangannya lah terbentuk karakter sang proklamator bangsa yang dikenal sebagai Soekarno. 

Ketika tiba di makamnya, hatiku tersayat. Bukan karena tidak ada bambu kuning dengan bendera merah putih yang menandakan bahwa dirinya pahlawan, melainkan karena kondisi makam yang tertimbun dedaunan kering. Seakan kehadirannya dilupakan. Malahan, di samping makam Soeharsikin, terlihat ada pohon besar tumbang yang meniduri kuburan lainnya. Seakan acuh tidak terjadi apa-apa.

“Pak, ini makam Ibu Soeharsikin kenapa gak dibersihin?” rasa penasaran yang cukup lama aku pendam akhirnya aku utarakan.

Awalnya aku ragu karena khawatir menyinggung perasaan si bapak. Namun, apa dikata, aku harus menanyakan semua itu demi menyelesaikan pekerjaanku.

“Ya mau dibersihin gimana, kami saja jadi tukang kebun gak digaji,” tuturnya.

2. Dualisme pengurus saling berebut uang

Kisah Tukang Kebun Cagar Budaya Botoputih Tidak Digaji Selama 20 TahunIDN Times/Vanny El Rahman

Apa yang disampaikan oleh Ju’i membuat dahiku mengernyit. Segera aku palingkan pandanganku ke arah si bapak, seakan bertemu dengannya adalah tujuan utamaku.

“Di sini ada sekitar 15 tukang kebun, gak ada satupun yang digaji,” tambah dia.

Entah bagaimana, bagiku ini ironis. Sebab, Pemakaman Botoputih merupakan tempat bersemayamnya pemilik “darah biru”. Hanya mereka yang bergelar “raden” saja yang bisa dikuburkan di pemakaman ini.

“Ini kan makam bangsawan, kenapa petugasnya malah gak digaji pak?” tanyaku.

Kami yang awalnya berdiri memutuskan mencari tempat duduk untuk melanjutkan obrolan. “Justru karena makam bangsawan itu, orang jadi rebutan untuk menjadi pengurusnya,” sahut Ju’i.

Dia menceritakan bahwa pihak yang bertanggung jawab terhadap Pemakaman Botoputih adalah para pengurus. Akan tetapi, bak kursi parlemen, kursi pengurus Pemakaman Botoputih menjadi rebutan pihak-pihak yang berkuasa di daerah tersebut.

“Itu malahan sampai ada pengurus bayangannya mas. Kenapa ada itu? Karena ada uangnya mas,” terang Ju’i.

Lelaki tua itu membeberkan, “Setiap tahunnya keluarga itu ditagih uang untuk perawatan makam. Pas Idul Fitri atau puasa, mereka punya daftar siapa saja yang berkunjung. Itu ditandain sama mereka, ditagih iuran makam. Saya gak tahu berapa, tapi kalau sampai ada pengurus bayangan, berarti uangnya lumayan besar.”

3. Hanya berharap sedekah dari para peziarah

Kisah Tukang Kebun Cagar Budaya Botoputih Tidak Digaji Selama 20 Tahun

Perbincangan kami sore itu menarik perhatian seorang lelaki. Dia merupakan warga setempat. Kehadirannya disapa akrab oleh Ju’i. “Makanya itu, saya gak mau bekerja atau ada urusan di sini,” sahut dia.

Tentu pertanyaanku berikutnya adalah apa yang menjadikan Ju’i bertahan selama 20 tahun menjadi tukang kebun di Pemakaman Botoputih. “Ya umur kayak begini mau kerja apa lagi, apalagi sekolah juga gak,” imbuh Ju’i.

Dia mendapat pundi-pundi rupiah dari sedekah para keluarga yang berziarah. Jumlahnya tidak besar. Bahkan seringkali dibagi dengan tukang kebun lainnya.     

“Palingan ada keluarga, saya bersihin, lumayan dikasih Rp50 ribu. Itu juga kadang dibagi empat atau lima. Ya kayak semut lihat gula gitu mas, saya langsung dikerumunin. Mau nolak ngasih juga gak bisa,” apa yang diungkapkannya membuat sore itu semakin kelam.

“Itu pun gak setiap hari ada. Kalau hari-hari gini, seminggu (aku mengunjungi Ju’i pada Selasa, 19 Februari) paling satu atau dua.”

Selain mengharapkan sedekah, Ju’i juga mengais rezeki dari mereka yang meminta perbaikan nisan atau menggunakan jasanya untuk menggali kubur. “Buat uang rokok juga gak cukup mas,” katanya dengan tawa, seakan menghibur diri.

4. Tukang kebun menjadi objek luapan kemarahan pengurus dan peziarah

Kisah Tukang Kebun Cagar Budaya Botoputih Tidak Digaji Selama 20 Tahun

Hal yang tidak kalah menyedihkan, mereka yang bekerja sebagai tukang kebun kerap menjadi bulan-bulanan peziarah apabila mendapati tempat istirahat keluarganya dalam keadaan kotor. Mereka merasa dirugikan karena sudah membayar kepada pengurus. Mereka menuntut hak setelah menunaikan kewajibannya.

“Kalau hari biasa, kami gak pernah ketemu pengurus. Tapi kalau ada keluarga yang ngeluh karena makamnya kotor, kami baru dimarah-marahin sama pengurus. Padahal kami gak digaji. Mana duit iuran mereka? Sama sekali gak ada yang turun ke kami,” ulasnya.

5. Ju’i berharap Pemerintah Kota Surabaya ambil alih kepengurusan makam

Kisah Tukang Kebun Cagar Budaya Botoputih Tidak Digaji Selama 20 Tahun

Dia hanya ingin pemakaman yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini terawat. Dia berharap Pemerintah Kota Surabaya mengambil alih kepengurusan pemakaman tersebut. Apalah arti protes bagi seorang Ju’i, dia tidak tertarik mengetahui bagaimana konflik internal pengurus. Untuknya, mengetahui lebih dalam, hanya semakin menyakiti hatinya.

“Saya sih berharap ini yang kelola Pemerintah Kota Surabaya. Supaya jelas pengelolaannya. Karena ini kan cagar budaya, di sini ada makam Bupati Surabaya pertama. Di sini ada makam orang soleh juga, pasti banyak yang wisata religi ke sini,” harap dia.

Sumber

Leave a Reply