Jadi, Siapa Yang Ngangkat Telepon?

Rumah kontrakan kami yang dulu, sebelum kami pindah ke rumah baru, percaya atau tidak merupakan rumah “berpenghuni.” Saya sebetulnya bukan termasuk orang yang percaya dengan begituan, tetapi pengalaman singkat tinggal di rumah itu membuat saya percaya bahwa hantu ini memang benar adanya.

Sebenarnya banyak keanehan ketika tinggal di rumah ini. Saya biasanya kerja dari pagi sampai hampir menjelang malam. Jadi di rumah hanya pulang untuk tidur. Dan keesokan harinya lanjut ke kantor lagi. Jadi jarang di rumah. Tetapi biarpun demikian, terkadang saya selalu mengalami hal-hal aneh. Misalnya ketika tidur, tiba-tiba merasa seluruh tempat bergoyang-goyang. Atau terkadang pada saat tidur melihat bayangan yang berdiri di sudut kamar saya.

Tetapi ini saya rasa mungkin saja karena saya kecapean sehingga berhalusinasi dan sebagainya sampai kejadian itu. Sebelumnya saya harus ceritakan kalau biasanya hanya saya dan adik saya yang tinggal di kamar. Tetapi kadang kalau kakak datang ke rumah, maka dia juga akan tinggal di kamar kami.

Jadi waktu itu saya ingat malam itu saya sudah tidur duluan. Adik saya yang pulangnya telat, saya kurang tahu dia jam berapa pulang, juga langsung tidur. Pagi-pagi sekali, waktu sedang tidur, tiba-tiba telepon di kamar saya berdering. Saya mengabaikannya, karena sesaat kemudian ada yang langsung mengangkatnya. Ya sudah, mungkin adik saya. Saya melanjutkan tidur saya lagi.

Entah berapa lama kemudian, telepon berdering kembali. Saya terlalu malas mengangkatnya. Toh kasur adik saya lebih dekat ke telepon. Jadi biarkan dia yang mengangkat lagi saja. Agak lama berbunyi, akhirnya adik saya mengangkatnya. Kurang lebih percakapan berikutnya seperti begitu.

“Halo?”

“Ya? Cari kakak? Sebentar.”

Adik saya langsung bertanya ke saya, “Kak Rana, Kak Mira ke mana?” Mira adalah nama kakak kami.

“Dia hari ini tidak nginap di sini,” jawab saya sambil mata tertutup.

“Jangan bercanda kak. Di mana dia sekarang?”

“Ya. Napain juga saya bercanda di pagi-pagi gitu.”

“Serius?”

Saya pun akhirnya bingung mengapa adik saya bertanya seperti begitu. Jadi saya pun buka mata menatap adik saya. Asli wajah dia kelihatan seperti wajah syok.

“Iya. Emang kenapa? Itu telepon dari siapa?”

Dia akhirnya menutup telepon dan bertanya ke saya. “Jadi tadi siapa yang mengangkat telepon di pagi-pagi tadi? Kok saya merasa itu kak Mira yang angkat?”

“Lho? Bukan kamu? Saya pikir kamu. Kan Kak Mira gak nginap hari ini.”

“Nggak kak….Bukan saya yang jawab telepon.”

Dan kami berdua pun tidak bisa berkata apa-apa. Waktu itu, kami berdua dengan sangat jelas mendengar suara dering telepon berbunyi, dan ada yang mengangkatnya dan berbicara. Kami berdua mendengar dengan telinga kami sendiri. Jadi ini bukan halusinasi atau mimpi.


 

Belakangan kami mulai menyadari rumah ini memang termasuk angker. Istilah orangnya, dihuni makhluk halus. Pantas uang sewa kontraknya tergolong murah sekali. Belakangan pada saat sudah keluar, saya baru diberitahu teman saya. Kenapa bisa-bisanya sewa di situ tanpa tanya-tanya dulu dulu ke orang sekitar.

Itu akhirnya menjadi pembelajaran juga pada kami. Sebelum beli atau kontrak rumah, lebih baik cek dulu, dari pada nantinya terganggu dan secara psikologis juga tidak tenang. Harga sih murah, tetapi rasanya tidak worthed.

– R

Sumber : Ceritamistis.com

Leave a Reply