Hidup Sendiri Tanpa Keluarga, Bocah Ini Hanya Ditemani Anjingnya. Begini Kisah Mengharukan Mereka!

Ketika masa anak-anak seusianya begitu riang bermain dengan teman-temannya, bocah lelaki berusia 8 tahun yang bernama Niu Niu ini, duduk di dekat jendela rumah, merenungkan nasibnya yang selalu ditinggalkan sendirian oleh anggota keluarganya. Dia tinggal di desa dan bersekolah di tahun kedua.

Orangtua Niu Niu telah meninggalkan dirinya pada kakek neneknya sejak dia kecil. Ibunya meninggalkan keluarga karena tidak ingin membebani mereka dengan penyakit yang berhubungan dengan epilepsi.

Sementara ayahnya bekerja jauh di kota besar untuk menghidupi keluarga. Neneknya yang amat disayanti telah m3n1ngg4l. Kakek Niu Niu pergi bekerja pada siang hari untuk mendapatkan uang guna untuk membayar utangnya yang banyak. Teman setia Niu Niu hanyalah seekor anjing.

Meskipun Niu Niu dibiarkan hidup sendiri dan mandiri, dia tidak pernah melupakan tanggung jawab untuk belajar sungguh-sungguh di sekolah. Setiap hari, Niu Niu akan berjalan kaki sejauh 10 kilometer ke sekolah. Dalam perjalanannya yang jauh setiap hari, Niu Niu akan ditemani oleh anjingnya yang sedang hamil dan tidak bisa ditinggal sendirian di rumah.

Karena anjingnya tidak dapat berjalan jauh karena kondisi fisik dan fisiknya yang lemah karen sedang hamil, Niu Niu akan menggendongg anjing itu dan membawanya ke sekolah. Niu Niu berkata, :”Orangtua membawa anak-anak mereka ke sekolah, dan saya membawa seekor anjing ke sekolah!”

Ketika Niu Niu belajar di kelas, anjing ini dengan setia menunggunya di luar kelas sampai selesai sekolah. Kemudian mereka berdua akan pulang sejauh 10 kilometer dan kembali ke rumah.

Ketika nenek Niu Niu masih hidup, dia akan menyediakan sarapan dan makanan enak setiap pagi. Sekarang, bocah ini hanya akan makan sisa makanan kemarin yang disiapkan oleh kakeknya, yang sudah dingin setiap pagi.

Meski baru berusia 8 tahun, Niu Niu telah melalui dan merasakan pahitnya kehidupan serta perihnya hidup seperti orang dewasa. Hidupnya menjadi semakin sepi setelah neneknya meninggal. Dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya kepada orang lain. Ketika Niu Niu mengingat kenangan dengan neneknya, air matanya akan mengalir tanpa sadar.

Suatu hari Niu Niu berkata,: “Sulit bagi keluarga saya untuk kembali. Mereka mungkin kembali pada usia saya 15 tahun atau 16 tahun. Atau mungkin setelah saya dewasa. “

Apa yang Niu Niu rasakan tentang orangtuanya akan membuat semua orang merasa iba. Hidupnya tidak sama dengan teman-teman sekelasnya yang memiliki kasih sayang orangtua.

Setelah menyelesaikan pekerjaan sekolah, Niu Niu dan anjingnya akan duduk di dekat jendela rumah sambil menunggu kakeknya pulang kerja. Teman setianya hanyalah anjing dan saat bermain dengannya adalah waktu yang paling membahagiakan.

Orangtua di lingkungan itu tidak mengizinkan anak mereka bermain dengan Niu Niu karena khawatir anak mereka akan digigit anjingnya Niu Niu. Dan Niu Niu tidak peduli dijauhi oleh tetangga. Bocah itu terus bermain dengan anjingnya di jalan tanpa memperhatikan pandangan tetangga. Hanya anjingnya yang memahami perasaanya yang kesepian.

Dalam perjalanan ke sekolah setiap hari, Niu Niu akan berhenti di makam neneknya di dekat jalan, dan dia akan mengadu kepada neneknya jika ada kegundahan di hatinya. Sebelum pergi ke sekolah setiap pagi, ia akan berdiri di depan makam sambil membersihkannya.

Meskipun anjing Niu Niu tidak berbahaya, sekolah masih khawatir bahwa anjing itu akan menggigit siswa lain dan ia dibiarkan berada di luar sekolah. Meskipun dihalau, anjing ini akan tetap setia menunggu Niu Niu sampai waktu pulang sekolah dan mereka akan kembali ke rumah bersama.

Di kelas bahasa, seorang guru telah menugaskan semua siswa untuk menulis esai singkat. Niu Niu menulis: Saya harap ibu dan ayah akan segera pulang.(yant)

Sumber: Erabaru

Leave a Reply