Cerita Seram Di Genting Highland Malaysia

Malaysia bisa berbangga dengan tempat rekreasi mereka di Genting Highland. Tetapi titik pariwisatanya, ternyata tempat ini menyimpan segudang cerita hantu nan seram. Malah bagi masyarakat Malaysia dan Singapore, Genting sepertinya merupakan tempat paling angker se-Asia.

Berikut ini merupakan beberapa cerita seram Genting yang dituturkan oleh pengunjung di sana yang berhasil dikumpulkan oleh Cerita Mistis.

Mimpi Seram di Hotel First World

Ada satu teman kakak saya yang cukup cakep. Dia bersama teman-teman satu grup pergi ke Genting. Mereka memutuskan untuk tinggal di Hotel First World. Kelompok mereka terpisah di beberapa kamar. Nah teman si kakak saya ini tidur bertiga dengan teman cewe yang lain.

Hotel angker First World di Genting

Malamnya, pada saat sedang tidur, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya, yang entah muncul dari mana, menindihnya dan mencoba memperkosanya. Pria itu menyentuhnya, menciumnya, dan bahkan mencoba melepaskan pakaiannya.

Yang bisa dilakukan dia hanya berontak dan berontak. Tetapi percuma. Jadi dia menutup mata dan berteriak tolong dan tolong. Tiba-tiba dia mendengar teman-temannya memanggil dan dia membuka matanya.

Dua temannya berada di sampingnya. Mereka cerita kalau dia tiba-tiba sambil tidur berteriak. Jadi mereka mencoba membangunkan kamu, tetapi gagal. Jadi mereka mencoba melafalkan doa, sambil yang satu lagi mencoba membangunkannya. Baru dia berhasil dibangunkan.

Mereka mengira dia hanya mimpi buruk biasa saja. Sampai akhirnya dia melihat ada bekas cakaran tangan, dan ada bekas darah di pahanya…..

Dengan ketakutan akhirnya mereka semua kabur ke kamar cowo semuanya. Mimpi ? Atau sesuatu? Tidak ada yang tahu. Y, Singapura

Kisah Seram di Hotel Theme Park

Tahun 2004, saya pergi ke Genting dengan teman-teman saya. Saya dan teman saya dua lainnya inap di satu kamar gede yang ada dua kasur king size di dalamnya. Sahabat saya pilih yang bagian dalam, sedangkan kami yang lainnya pilih yang bagian luar.

Ada sebuah pintu di tengah-tengah kasur. Soalnya kamar itu aslinya adalah dua kamar tetapi dijadikan satu kamar gede.

Hotel angker Theme Park di Genting

Malam pertama, kami tidur jam 2. Tetapi tiba-tiba saya terbangun pada jam 3 lebih. Saya merasa suasananya agak seram, dan ruangan terasa dingin. Saya melihat teman saya, dan dia masih tertidur pulas. Jadi saya coba tidak mengindahkan perasaan tidak enak, dan coba tidur kembali.

Pada waktu saya mencoba menutup mata lagi, saya merasa ada suara gerakan yang datang dari bagian teman saya itu. Kami tidak menutup pintu, cuman karena ada dinding pembatas, jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas dari posisi kamar tidur kami.

Saya mencoba mendengar seksama, dan saya yakin ada seseorang yang berjalan di kamar teman saya itu. Saya merangkak masuk ke selimut, dan mengacuhkan suaranya.

Lalu suara langkah kaki itu perlahan-lahan mendekat. Semakin dekat dan dekat, dan berhenti di samping saya. Saya mendengar seseorang berbisik halus di samping saya. Tidak yakin ini lelucon teman saya atau bukan, saya langsung menarik selimut saya dan melihat!

Tetapi tidak ada satu orang pun yang ada di samping saya.

Saya tahu ini adalah sesuatu yang tidak beres. Saya cepat-cepat menarik selimut lagi. Beberapa saat kemudian saya mendengar suara bisikan lagi. Sejujurnya saya sangat ketakutan. Dan saya mencoba melafalkan mantra Guan Yin. Setelah beberapa saat, suara bisikan itu akhirnya terhenti dan ruangan tidak terasa dingin lagi. Saya terlalu lelah jadi setelah melafalkan mantra beberapa kali lagi saya kembali tidur.

Paginya jam 9 saya yang bangun pertama. Saya membangunkan mereka. Teman saya baru sadar, ada lampu di samping dan kipasnya dalam keadaan mati. Seingat dia, dia sudah menyalakannya dan dia tidak menutupnya di tengah malam. Saya kemudian menceritakan kejadian malam tadi. Tapi kami memutuskan tidak terlalu mempedulikannya karena kita juga tidak bisa apa-apa.

Malam kedua, malam ketiga tidak terjadi apa-apa. Tapi di malam terakhir…. Saya, teman saya dan yang satu lagi sepakat pergi main di kasino sepanjang malam. Salah satu teman ingin pulang ke kamar karena kecapaean.

Ketika paginya sarapan bersama-sama dia tanya apa semalam kami ada kembali ke kamar untuk cari barang? Kami bilang tidak… Dan dia bercerita, semalam dia terbangun dengan suara keras di kamar sebelah, seperti sedang mencari barang di kantong plastik. Seperti seseorang sedang mencari sesuatu di kantong plastik yang kita bawa. Karena dia sangat mengantuk jadi dia teriak tolong jangan berisik dan kembali tidur. Untung dia tidak terjadi apa-apa… S – Singapura

Lolongan Seram di Amber Court

Waktu itu cuaca lembab dan sejuk. Kami berhenti di depan Amber Court dan berpikir-pikir apakah mau tinggal di situ atau tidak. Wayne yang memberi ide untuk coba lihat karena kita sudah setir sampai sini.

Hotel angker Amber Court di Genting

Ketika memasuki lobby, hanya ada satu resepsionis yang ada di situ. Selain itu ruangannya kosong, dan semua toko-toko kecil tutup. Kesannya, saya sepertinya memasuki tempat yang sedang renovasi. Ruangannya terlalu kosong sehingga kita bisa sampai mendengar gaung suara. Ketika check-in, kami mendapat tempat di lantai 14.

Menurut kepercayaan Tionghoa, angka 14 adalah angka sial. Saya meminta lantai bawah atau lantai atas, tetapi resepsionis menegaskan tidak bisa berubah, karena ini kebijakan hotel. Kebijakan hotel macam apa itu?

Tanpa menghabiskan waktu, kami mengambil kunci dan menuju ke lantai 14. Ketika sampai di lantai 14 kami menuju ke kamar kami. Ternyata di pintunya ada gemboknya. Aneh. Wayne mencoba memasukkan kunci ke situ. Agak susah juga. Dan di saat dia tengah kesulitan membuka gembok, tiba-tiba…

Saya mendengar suara pekikan perempuan.

Ini suara lolongan, bukan suara perempuan minta tolong. Suara lolongan yang mengerikan. Suaranya sampai 5 detik dan saya bersumpah saya TIDAK berhalusinasi. Pada titik ini, mungkin kalian mentertawakan saya karena delusional atau sebagainya. Tapi saya bisa memastikan ke kamu, itu serius terdengar.

Saya tidak bisa menemukan sumber suaranya, karena kamar-kamar lain tertutup rapat semuanya. Tidak ada jendela yang terbuka. Setelah suara lolongan itu berhenti, saya menoleh dan bertanya yang lain, “Kalian,…, mendengar sesuatu tadi?”

Semuanya mengangguk kepala.

Beberapa saat Wayne berhasil membuka gemboknya. Saya tidak mengerti mengapa dia masih mau masuk ke kamar itu setelah mendengar suara tadi. Setelah pintu terbuka dengan suara gemercik, tiba-tiba satu orang bertukas “Ya ampun, kok pintu lemari esnya terbuka.” Gara-gara kepanikannya semua ikut panik, dan Wayne menutup kembali pintu kamarnya dan pergi ke lift dan checkout.

Resepsionis bahkan tidak menanyakan kami mengapa checkout secepat itu (baru lima menit). Saya rasa dia sudah tahu benar tempat itu. Semenjak itu saya berjanji tidak akan pernah ke Amber Court lagi, biarpun dibayar sekalipun. S- Malaysia.

Sumber : Ceritamistis.com

Ads2

Be the first to comment

Leave a Reply