Anjing Tanah Jelmaan Jin

Pembangunan besar-besaran di negeri ini memberikan kesan yang berbeda-beda pada setiap orang yang menjadi penghuni Indonesia yang ‘gemah ripah loh jinawi’. Ada yang suka, ada yang tidak suka. Biasa lah. Pro dan kontra akan tetap ada sampai kapanpun. Yin dan Yang. Rwa Bhineda. Dua berbeda yang satu. Tidak menutup kemungkinan dengan para makhluk halus. Jin misalnya, siluman, peri perayangan dan lain sebagainya. Mereka ternyata juga ber-pro dan kontra.

Suatu ketika jalanan aspal di depan gang rumahku diperlebarkan. Di gali ke kiri dan kanan bahu jalan. Di cor kemudian dilapisi aspal tebal. Mungkin adalah itu satu minggu berjalan. Selesai sudah tidak ada truk molen atau hiruk pikuk orang-orang memperlebar jalan raya. Hari masih senja ketika aku keluar rumah, berjalan kaki sekedar membuang bosan.

Seekor anjing tanah atau orang jawa menyebutnya orong-orong, hewan yang pandai menggali tanah muncul begitu saja di depanku. Sebesar korek api tapi berwarna putih bersih. Setahuku, anjing tanah berwarna cokelat toh? Tapi ini putih bersih. Tapi sayangnya, dia tanpa kepala.

“Sugeng dalu”.

Aku menoleh ke kiri, ke kanan, menengok ke belakang, celingukan memandang depan mencari siapa yang mengucapkan Selamat Malam itu.

“Cah bagus”.

Suara itu ada lagi. Aku tidak dapat menemukan sosok apa-apa atau siapa-siapa. Aku dilahirkan sebagai Indigo yang setiap waktu selalu berjumpa dengan hal-hal yang tersembunyi, aneh bagi orang awam. Maka itu akan tetap mencarinya. Penasaran. Sebab sepengalamanku, makhluk-makhluk halus kebanyakan akan menepiskan diri jika bertemu sosok manusia. Kecuali jin-jin yang memang setan pengganggu. Itu lah kenapa di perkotaan jarang sekali terlihat hantu. Hanya ada lalu lalang kendaraan. Aku pandangi anjing tanah itu.

“Apa salahku?”.

Betul, anjing tanah itu ternyata yang bicara walau tanpa kepala.

“Salahmu? Aku gak ngerti”.

“Manusia memang sakarepe dewe (sekehendaknya sendiri). Tidak memperdulikan sesama makhluk. Kenapa aku disalahi seperti ini? Rumahku di obrak-abrik tanpa peringatan apapun”.

Sekejap anjing tanah itu menghilang begitu saja. Tanpa kata-kata terakhir, tanpa pesan atau apapun. Hanya kalimat yang di utarakan secara ringan tapi mampu menusuk perasaan. Entah kenapa peristiwa itu membuat aku sedih. Aku membayangkan kalau-kalau dibawah tanah bahu jalan itu ada lubang yang dihuni jin berupa anjing tanah, kemudian dikeruk habis, rumah makhluk malang itu serta merta lenyap, kepalanya kena back-hoe hingga putus.

Ah, pikiranku melambung kemana-kemana. Kontraktor mana yang akan mengadakan selamatan pembangunan pada tiap-tiap kampung yang dilewati untuk dibangun? Terlalu rumit. Mungkin mereka hanya mengadakan tumpengan dan doa bersama di suatu tempat di tengah kota besar sana bersama para pejabat-pejabat tinggi.

Mana rakyat yang akan ikut makan tumpeng? Tidak ada.

Mana penunggu-penunggu gaib yang kecipratan doa agar mereka menyingkir mencari tempat baru? Tidak ada. Tiba-tiba saja di babat habis. Mereka tidak akan mengadakan ritual suci apapun hingga terjadi keanehan ngeri saat pembangunan. Jika kami sebagai manusia berhak untuk mendapat kehidupan damai. Mereka juga.

Ads2

Be the first to comment

Leave a Reply