Rumahku Bukan Rumahku,Halaman Mistis yang Bikin Aku Tidak Betah!

Hal pertama yang ingin saya share adalah mengenai lingkungan tempat saya tinggal yang menurut saya menyeramkan. Jadi begini, saya anak tunggal dari orang tua yang broken home sejak usia saya 11 bulan.

Saya tinggal di suatu desa di derah kabupaten Sumedang. Sejak usia itu saya tinggal dengan ibu tiri yang tempramental (belakangan saya ketahui kisah hidup di masa lalunya sangat miris di abaikan orang tuanya) sekitar tahun 2000-an usia saya 5/6 tahunan saya sudah biasa terbangun di malam dini hari karena kedua orang tua pergi ke warung tempat jualan di pabrik tempat gergaji kayu (semua bangunan adalah rumah gubuk dari kayu, berdinding, atap bilik (anyaman bambu), alasnya dari bambu juga namanya ranjang (batang bambu tua yang di iris-iris tanpa terlepas masing-masing dengan tujuan membentuk alas seperti karpet), bawahnya terdapat kolong karena rumah adat sunda zaman dulu bentuknya panggung jadi semua sudut bangunan bawahnya di pondasi batu besar yang kokoh berdiri (untuk lingkungan ini nanti saya coba share di youtube).

Saat itu jauh dengan keadaan sekarang penduduk sangat jarang kegiatan semua bertani kalau siang hari bahkan kalau malam haripun masih banyak yang beraktifitas apalagi ketika musim panen di sawah, kebun (kebun kehutanan yang di bakar dan dibersikan di buat petakan ladang di lereng-lereng perbukitan), huma (bagian tengah hutan yang di bersihkan, di bakar, di cangkul untuk ditanami padi hutan yaitu padi yang di tanam bukan di area pesawahan melainkan di tanah perbukitan yang kering), dan seterusnya.

Jalan yang ada masih berbentuk bebatuan besar yang di pukul-pukul dipecahkan warga lalu di susun jadi bentuknya berantakan dan kebanyakan tajam-tajam. Peneranagn waktu itu hanya berupa damar (cempor) belum ada lilin dan paling orang kaya di kampung saya menggunakan patromak (lentera yang di pompa).Maka ketika malam hari tiba di mulai dari jam 17.00 sudah sangat gelap mengingat di sekitar rumah adalah hutan pepohonan pisang, bambu, jengkol, aren, kelapa, salak, semak belukar dan pohon-pohon berkayu besar seperti metces, jati, mahoni, kemiri dan lain-lain sehingga saking banyaknya pepohonan yang besar ini cuaca cepat gelap.

Desa tempat saya tinggal ini semua rumah berjejer sepanjang jalan desa ntah kepercayaan sekitar hal ini menghindari dari sulitnya jangkauan warga tetangga jikalau ada apa-apa mengingat hutan masih sangat lebat. Kegiatan malam hari sangat tidak ada semua hanya berdiam diri di rumah masing-masing. Kalaupun ada warga yang jaga ronda hanya 1-3 orang saja mengingat desa kami kecil.

Rumahnya bisa saya hitung, saya ingat persis ada sekitar 20-an rumah yang rumah itupun penghuninya ada yang bekerja mengasuh nasib ke kota dan pulang setahun sekali saja. Rumah saya di apit oleh 2 rumah kosong yang mana 2 rumah ini di kenal angker oleh warga sekitar dan sering kawenehan (mengalami kejadian misteri, yang di alami seseorang baik malam atau siang hari yang kebanyakan bertemu sosok hantu).

Hal unik dari desa saya ini terutama sekitar rumah adalah sangat sering orang datang kerumah bercerita atau bertanya langsung mengenai kejadian kawenehan yang di alami warga desa sekitar yang lewat di sekitar rumah dan bertemu sosok sosok hantu macam-macam ada Jurig Beureum (hantu merah), Jurig Jengkol (hantu pohon jengkol), Jurug Cupang (hantu yang meminta tumbal), dan banyak lagi (nanti saya akan ceritakan perjudul).

Jujur saya menulis nama-nama di atas bulu kuduk berdiri. Saya juga pribadi yang memiliki kelebihan sejak kecil (indigo) tapi saya tidak percaya dengan indigo walaupun saya mengalaminya karena saya punya definisi sendiri (nanti saya akan buat kisahnya dalam satu judul). Ayah saya adalah sosok soleh ahli ibadah, memahami dan tahu ilmu kebathinan, pernah di santet (saya lihat dan alami sendiri, ceritanya akan saya tulis di satu judul khusus).

Desa tempat saya tinggal semua rumahnya berdempetan kecuali rumah kedua orang tua saya yang terpencil karena orang tua yang hanya bisa beli tanah murah disini walaupun masih hutan. Ayah saya juga sering kemasukan kalau menjelang tengah malam. Orang tua saya juga masih percaya turun temurun dan mempraktekan hal tersebut.

Kecuali saya karena turunan akan saya potong tutup sampai di ayah saya saja karena yang saya tahu jika karuhun (pendahulu keluarga seperti ayah, kakek, dan seterusnya) membuat suatu amalan/perjanjian maka ilmunya akan turun secara otomatis kecuali kita sendiri yang menolaknya walaupun sulit. Cerita yang saya tulis ini adalah kisah nyata hidup yang saya alami langsung, ayah saya dan keluarga alami.

Karena banyak hal mistis dalam hidup saya yang di alami maka saya berniat berbagi kisah hidup saya. Semoga cerita latar belakang saya yang sangat singkat ini membuat teman-teman pembaca tertarik dengan kisah misteri di hidup saya. Jika admin meloloskan tulisan saya insha Alloh saya lanjutkan tapi kalau tidak saya sungkan berbagi cerita tanpa prolog diri saya terlebih dahulu. Terima kasih wassalam selamat malam.

Ads2

Be the first to comment

Leave a Reply